The Way of the Buddha

Buddha-meditation-art

Sang Buddha Gautama adalah terobosan terbesar yang diketahui umat manusia hingga saat ini.

Engkau akan membutuhkan wawasan yang luar biasa untuk memahami apa yang telah Buddha berikan bagi kesadaran manusia, pada evolusi manusia, pada pertumbuhan manusia. Manusia tidak akan sama jika tidak ada Buddha. Manusia akan sama jika tidak ada Kristus, tidak ada Krishna; tidak akan ada banyak perbedaan. Tapi jika kita menyingkirkan Buddha maka sesuatu yang sangat penting hilang; tetapi pemberontakannya sangat tidak terlihat, sangat halus.

Sebelum Buddha, pencarian religius pada dasarnya adalah urusan dengan Tuhan: Tuhan yang ada di luar diri, Tuhan yang ada di suatu tempat di surga. Pencarian religius juga berkaitan dengan objek keinginan, sama seperti pencarian duniawi. Manusia duniawi mencari uang, kekuasaan, prestise, dan manusia non-duniawi mencari Tuhan, surga, keabadian, kebenaran. Tapi satu hal yang umum: keduanya melihat ke luar, keduanya ekstrovert. Ingatlah kata ini, karena ini akan membantumu memahami Buddha.

Sebelum Buddha, pencarian religius tidak peduli dengan yang di dalam diri tetapi dengan yang di luar diri; itu ekstrovert, dan ketika pencarian religius bersifat ekstrovert, pencarian itu tidak benar-benar religius. Agama dimulai hanya dengan introversi, ketika engkau mulai menyelami dirimu lebih dalam.

Buddha mengubah seluruh dimensi religius. Beliau memberikan belokan yang begitu indah: Beliau mengajukan pertanyaan NYATA. Beliau bukan seorang ahli metafisika, tidak pernah mengajukan pertanyaan metafisik; Baginya, metafisika adalah sampah. Beliau adalah psikolog pertama yang dikenal dunia, karena Beliau mendasarkan agamanya bukan pada filsafat tetapi pada psikologi.

Psikologi dalam arti aslinya berarti ilmu jiwa, ilmu tentang sesuatu di dalam diri.

Beliau tidak bertanya: Siapa yang menciptakan dunia? Beliau bertanya: Mengapa Aku di sini? Siapa Aku? Siapa yang menciptakan Aku? Dan ini bukan masalah masa lalu – “Siapa yang menciptakan Aku?” – kita terus menerus diciptakan. Hidup kita tidak seperti sesuatu yang diciptakan untuk selamanya; itu bukan sebuah objek. Ini adalah fenomena yang berkembang, itu adalah sungai yang mengalir. Setiap saat sungai itu melewati wilayah baru. “Siapakah yang menciptakan kehidupan ini, energi ini, pikiran ini, tubuh ini, kesadaran ini, Aku ini?” Pertanyaannya sangat berbeda. Beliau mengubah agama dari ekstroversi menjadi introversi.

Agama ekstrovert berdoa kepada Tuhan; agama introvert bermeditasi. Doa bersifat ekstrovert; doa ditujukan kepada beberapa Tuhan yang tidak terlihat. Dia mungkin ada di sana, Dia mungkin tidak ada di sana – engkau tidak bisa yakin atau pasti; keraguan pasti akan terus ada. Karenanya, setiap doa berakar di suatu tempat dalam keraguan, dalam ketakutan, dalam ketidakpastian, dalam keserakahan.

Meditasi berakar pada keberanian, pada non-keserakahan. Meditasi tidak memohon apapun dari siapa pun, meditasi tidak ditujukan kepada siapa pun. Meditasi adalah keadaan keheningan batin. Doa masih berisik, engkau masih berbicara – berbicara dengan Tuhan yang mungkin tidak ada di sana. Itu gila, neurotik; engkau berperilaku seperti orang gila. Orang gila terus berbicara; mereka tidak terlalu peduli apakah ada orang yang mendengarkan mereka atau tidak. Itu adalah tanda pasti bahwa mereka gila – mereka membayangkan ada seseorang di sana; tidak hanya itu, mereka hampir bisa melihat lawan bicaranya. Visualisasi mereka hebat, imajinasi mereka sangat substansial. Mereka mampu mengubah bayangan menjadi substansi, imajinasi menjadi kenyataan, fiksi menjadi fakta. Bagimu mereka tampaknya terlibat dalam monolog; kepada diri mereka sendiri, mereka terlibat dalam dialog.Engkau tidak dapat melihat siapa yang hadir di sana – mereka sendirian – tetapi mereka melihat bahwa seseorang ada di sana.

Karena fakta inilah psikoanalisis sangat berhati-hati tentang agama, karena orang yang beragama berperilaku seperti neurotik. Dan ada banyak psikoanalis yang berpikir bahwa agama hanyalah neurosis massal – dan mereka ada benarnya: agama ekstrovert adalah neurosis massa.

Tetapi para psikoanalis belum menyadari Buddha. Buddha akan memberi mereka wawasan baru tentang agama, membawa agama ke dalam agama yang benar. Tidak ada doa, tidak ada Tuhan. Meditasi bukanlah dialog, atau bahkan monolog – meditasi adalah keheningan murni.

Meditator tidak memiliki objek. Meditasi tidak berarti merenungkan sesuatu.

Buddha mengubah seluruh pencarian religius dari metafisika menjadi psikologi yang hebat, karena Beliau bertanya: Apa penyebab hidup dan kematianku? Beliau tidak peduli dengan alam semesta. Beliau berkata: Kita harus mulai dari awal, dan apapun itu, untuk memiliki arti yang nyata dalam hidup, harus memperhatikan DIRIKU SENDIRI: siapa aku dan mengapa aku?

Beliau berkata, “Aku telah mencari dan mencari Tuhan untuk kehidupan yang tak terhitung jumlahnya. Semuanya sia-sia. Aku tidak dapat menemukan Tuhan, karena pada kenyataannya Tuhan bukanlah seseorang dan engkau tidak dapat menemukannya. Tuhan itu bukan ‘dia’. “

Sekarang ada kontroversi besar apakah Tuhan itu laki-laki atau perempuan. Dia bukan keduanya. Dan jika engkau bersikeras bahwa kita harus memilih antara dua kata ini, ‘dia (laki-laki)’ dan ‘dia (perempuan)’, aku akan menyarankan bahwa ‘dia (perempuan)’ jauh lebih baik karena perempuan mengandung laki-laki, tetapi laki-laki tidak mengandung perempuan. Tapi sebenarnya, Tuhan sama sekali bukan pribadi; maka pertanyaannya apakah Dia laki-laki atau perempuan tidak relevan.

Tuhan adalah kualitas, bukan objek. Tuhan bukanlah Tuhan tetapi keilahian – dan keilahian harus ditemukan pertama kali di dalam dirimu. Kecuali engkau bisa merasakannya dalam dirimu sendiri, engkau tidak akan dapat melihatnya di tempat lain. Begitu engkau mencicipi keilahian, setelah engkau mabuk pada yang ilahi, maka engkau akan melihatnya di pepohonan – di hijau dedaunan, di merah pohon, di keemasan pohon. Engkau akan melihatnya di sinar matahari, di bulan, di bintang-bintang. Engkau akan dapat melihatnya di binatang, burung, manusia, sungai, gunung. Seluruh keberadaan akan mencerminkan pemahamanmu, akan menjadi cermin bagimu. Engkau akan dapat melihat wajahmu sendiri di mana-mana. Kita hanya dapat melihat apa adanya kita, kita tidak dapat melihat apa yang bukan diri kita.

Ini adalah sumbangan besar Buddha: Beliau berhenti berdoa, Beliau melepaskan gagasan tentang Tuhan, dan memberikan pendekatan baru – pendekatan baru itu adalah meditasi.

Buddha mencoba segala cara yang mungkin. Beliau pergi ke semua guru yang dikenal dan tidak begitu terkenal yang masih hidup di pedesaan, dan dari mana saja Beliau berguru, Beliau kembali dengan tangan kosong.

Akhirnya Beliau memutuskan, “Ada yang salah bertanya kepada orang lain, pada dasarnya ada yang salah dalam mengikuti orang lain, menjadi pengikut orang lain. Lebih baik, inilah saatnya, Aku harus menyelami jauh ke dalam diriku sendiri, bahwa Aku harus mencari dan mencari sendiri. ” Dan begitulah meditasi lahir.

Buddha menghentikan semua upaya ekstrovert, menjadi sangat tertutup, seluruh energinya berubah. Beliau mulai memutar arah ke dirinya sendiri, ke inti terdalamnya. Tuhan tidak dapat ditemukan di luar diirmu, karena tidak ada Tuhan yang dapat berada di luar dirimu. Tuhan adalah aroma tertinggi dari kesadaranmu. Ketika kesadaranmu terbuka seperti bunga teratai, aroma yang dilepaskan adalah Tuhan – lebih baik menyebutnya keilahian.

Tuhan bukanlah kata benda tapi kata kerja. Biarkan hal ini meresap ke dalam hatimu: bahwa Tuhan bukanlah kata benda, tetapi kata kerja. Faktanya, seluruh keberadaan adalah kata kerja. Ubah semua kata bendamu menjadi kata kerja dan engkau akan berada di jalur yang benar, karena semuanya hidup dan mengalir – bagaimana engkau bisa menyebutnya kata benda? Kata benda memberi gagasan pasti. Kata benda selalu mati dan kata kerja selalu hidup.

Dan Tuhan itu hidup. Dia hidup di dalam dirimu, Dia hidup di dalam diriku, Dia hidup di dalam burung. Dimanapun ada hidup, Tuhan berada di sana; Tuhan itu identik dengan kehidupan.

OSHO – The Dammapada: The Way of the Buddha

Gautama the Buddha is the greatest breakthrough that humanity has known up to now.

You will need great insight to understand what Buddha has contributed to human consciousness, to human evolution, to human growth. Man would not have been the same if there had been no Buddha. Man would have been the same if there had been no Christ, no Krishna; there would not have been much difference. Remove Buddha and something of tremendous importance is lost; but his rebellion is very invisible, very subtle.

Before Buddha, the search – the religious search – was fundamentally a concern with God: a God who is outside, a God who is somewhere above in the heavens. The religious search was also concerned with an object of desire, as much as the worldly search was. The worldly man sought money, power, prestige, and the otherworldly man was seeking God, heaven, eternity, truth. But one thing was common: both were looking outside themselves, both were extroverts. Remember this word, because this is going to help you understand Buddha.

Before Buddha, the religious search was not concerned with the within but with the without; it was extrovert, and when the religious search is extrovert it is not really religious. Religion begins only with introversion, when you start diving deeply within yourself.

Buddha changed the whole religious dimension, he gave it such a beautiful turn: he asked REAL questions. He was not a metaphysician, he never asked a metaphysical question; to him metaphysics was all rubbish. He was the first psychologist the world had known, because he based his religion not on philosophy but on psychology.

Psychology in its original meaning means the science of the soul, the science of the within.

He didn’t ask: Who created the world? He asked: Why am I here? Who am I? Who is creating me? And it is not a question of the past – “Who created me?” – we are constantly being created. Our life is not like a thing created once and for all; it is not an object. It is a growing phenomenon, it is a river flowing. Each moment it is passing through new territory. “Who is creating this life, this energy, this mind, this body, this consciousness, that I am?” His question is totally different. He is transforming religion from extroversion into introversion.

The extrovert religion prays to God; the introvert religion meditates. Prayer is extrovert; it is addressed to some invisible God. He may be there, he may not be there – you can’t be sure or certain; doubt is bound to persist. Hence every prayer is rooted somewhere in doubt, in fear, in uncertainty, in greed.

Meditation is rooted in fearlessness, in greedlessness. Meditation is not begging anything from anybody, it is not addressed to anybody. Meditation is a state of inner silence. Prayer is still noise, you are still talking – talking to a God who may not be there. Then it is insane, neurotic; you are behaving in a mad way. Mad people go on talking; they don’t bother much whether there is anybody to listen to them or not. That is a sure sign that they are mad – they imagine that somebody is there; not only that, they can almost see the other. Their visualization is great, their imagination is very substantial. They are capable of changing shadows into substance, imagination into realities, fiction into facts. To you they seem to be involved in a monologue; to themselves they are involved in a dialogue. You cannot see who is present there – they are alone – but they see that somebody is there.

It is because of this fact that psychoanalysis is very cautious about religion, because the religious person behaves just like the neurotic. And there are many psychoanalysts who think that religion is nothing but a mass neurosis – and they have a point: the extrovert religion is a mass neurosis.

But psychoanalysts have not yet become aware of Buddha. Buddha will give them a new insight into religion, into true religion. There is no prayer, no God. Meditation is not a dialogue, or even a monologue – meditation is pure silence.

the meditator has no object. Meditation does not mean to meditate upon something.

Buddha turned the whole religious quest from metaphysics into a great psychology, because he asked: What are the causes of my life and my death? He is not concerned with the universe. He says: We should start from the beginning, and anything, to have a real significance in life, has to be concerned with me MYSELF: who am I and why am I?

He is saying, “I have been seeking and searching for God for countless lives. It was all in vain, it was futile. I could not find any God, because in fact God is not a person and you cannot find him. God is not a ‘he’.”

Now there is great controversy whether God is a he or a she. He is neither. And if you insist that we have to choose between these two words, ‘he’ and ‘she’, I will suggest that ‘she’ is far better because she contains he, but he does not contain she. But in truth, God is not a person at all; hence the question of whether he is he or she is irrelevant.

God is a quality, not an object. God is not God but godliness – and godliness has to be found first within yourself. Unless you have a taste of it in your own being you will not be able to see it anywhere else. Once you have tasted it, once you have become drunk on the divine, then you will see it in the trees – in the green of the trees, in the red of the trees, in the gold of the trees. You will see it in the sun, in the moon, in the stars. You will be able to see it in the animals, birds, people, rivers, mountains. The whole existence will reflect your understanding, will become a mirror to you. You will be able to see your own face everywhere. We can see only that which we are, we cannot see that which we are not.

This is Buddha’s great contribution: he dropped prayer, he dropped the idea of God, and he gave a new approach – that new approach is meditation.

Buddha tried every possible way. He went to all the known and not-so-known teachers who were alive in the country, and from everywhere he came back empty-handed.

Finally he decided, “There is something wrong in asking others, there is something basically wrong in going behind others, following others. It is better, it is time, that I should dive deep within myself, that I should seek and search alone.” And that’s how meditation was born.

Buddha dropped all extrovert efforts, became totally introverted, his whole energy turning in. He started tuning himself to his innermost core. God cannot be found outside you, because there is no God who can ever be outside you. God is the ultimate fragrance of your consciousness. When your consciousness opens like a lotus, the fragrance that is released is God – better to call it godliness.

God is not a noun but a verb. Let this sink deeply into your heart: that God is not a noun but a verb. In fact, the whole existence is a verb. Change all your nouns into verbs and you will be on the right track, because everything is alive and flowing – how can you call it a noun? A noun gives a fixed idea. A noun is always dead and a verb is always alive.

And God is alive. He is alive in you, he is alive in me, he is alive in the birds. Wherever life is, God is; God is synonymous with life.

OSHO – The Dammapada: The Way of the Buddha

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s